Do'a
Bisikku kutitipkan pada pijar setitik
Mengais sunyi menyibak kabut
Menuntun hening kedamaian
Telapakku masih terkuak dan tengadah
Pasrah dan berpeluh seiring tangis
Sungguh malu aku
Sering tinggalkan mu
Kini menjenguk Cuma tuk merayu
Tapi aku yakin
Demi sepatah kata
Kepadamu aku meminta
Berikan Cintanya Untukku
Diam - Diam Kugali Puisimu
Setiap kali kutulis sajak ini
Tak lupa kuselipkan perih didalamnya
Hati rumput yang kedinginan saat mentari membeku
Dan tafakur menjadi kaku
Bukan hanya puja yang memudar memucuk embun dalam gulir nafasku
Yang angin perlahan menyusup pada lantai
Kita kian jauh membayangkan pada kolam dunia
Padahal kau ada disana
Lantas Siapa yang menegur, , , ?
Bila tangan menggapai wajah bulan
Dan harum bintang melelapkan angan – angan
Lantas siapa yang mengahadang, , , , ?
Bila langkah makin sungsang dan bibir senantiasa menyentuh malam
Lantas pada siapa aku bertanya, , , , ?
ini jalan kemana, , , ?
Sementara fikiran mandul menudingku, , , ,
apakah dia cinta, , , , ?
Lantas siapa yang menjawabnya, , , , ?
Acapkali aku menulis puisi ini, , ,
tak lupa kusebut namamu
Burung - burung kertas yang lepas pada awan
Lalu malam mengasingkannya
Jauh kedalam lumpur yang telah lama terpendam Lalu hati kumuh menjerat dunia, , ,
bulan mengajakku ke gunung
Yang tak siap aku menjadi pengembara
Setiap kali aku menulis prosa ini
Tak lelah ku lampiri takutku
Lalu siapa yang akan menyiramkannya dengan hujan, , , ?
Masa kemarau belum lagi lewat
Entah untuk musim selanjutnya
Diam - diam kugali adamu
Seperti Cintaku Pada mu